Menghidupkan Kembali Para Pakar Dengan Artificial Inteligence (AI).

Oleh Ashraff Fitrah Rachman Arafat – Saat sedang beristirahat dari kegiatan perkuliahan, saya dan beberapa teman bertemu melalui discord untuk sekedar berbincang singkat dan ice breaking. Dalam sebuah dialog singkat bersama teman-teman, terbesit pertanyaan iseng “andai saja penemu rumus aljabar masih hidup, mungkin akan kutanya kenapa dia harus menciptakan rumus yang rumit ini.” Pertanyaan ini telah menghantui pemikiran penulis, bisakah hal ini demikian terjadi? Berbicara dengan orang mati, memangnya ini dunia sihir. Memikirkan ini seperti percaya pada sebuah cerita-cerita takhayul saja, di zaman se-modern ini Pseudosains seharusnya bukanlah hal yang masih populer.

Benar juga, ini zaman modern. Pada zaman modern ini semua bisa terjadi. Bahkan hal seperti penggabungan genetik hewan dapat dilakukan, apalagi sekedar berbicara dengan para pakar. Optimisme merupakan kunci utama dalam dunia sainstifik, selain itu sains adalah bentuk perlawanan terhadap pseudosains. Hal-hal seperti berbicara dengan pakar pasti bisa terjadi dengan bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Benar saja, pada saat berselancar di dunia digital penulis menemukan fakta—sebenarnya penulis ingin menggunakan kata keajaiban namun terdengar tidak begitu ilmiah dan sainstifik—akan Artifical Intelligence(AI) itu sendiri.

Kecerdasan Sistem

Melalui pengembangan AI, Expert System ini dapat menyelesaikan masalah dengan cepat sesuai pada bidangnya masing-masing. Dilansir dari JavaTPoint, generasi pertama dari Expert System muncul pada tahun 1970, generasi pertama menggunakan metode IF-THEN, sementara pada generasi kedua lebih bersifat fleksibel dalam menjawab pertanyaan terhadap para pengguna. Maka dari itu, pembuatan mesin seperti ini sangat bergantung pada teknisinya, karena basis pemikiran sistem pakar nantinya berasal dari pengetahuan yang sifatnya faktual, teoritis, praktis, dan ketepatan analisis.

Melalui kemampuan seorang teknisi dalam membuat sistem pakar merupakan faktor utama dalam menjawab setiap pertanyaan user. Sistem pakar ini tentunya bergantung pada input yang diberikan oleh setiap teknisi. Jika teknisi memberikan pemahaman dasar terhadap bidang kedokteran, maka sistem pakar ini hanya mampu menjawab persoalan medis saja.

Matinya Para Ahli

Dilansir melalui Great Learning, setidaknya ada 3 hal yang membuat Sistem Pakar ini lebih baik daripada seorang ahli itu sendiri. Ketika manusia merupakan objek yang fana, maka sistem pakar mampu bertahan secara permanen. Jika manusia mengalami kesulitan dalam mengolah dan mentransfer infromasi, Sistem pakar mampu mengolah hal tersebut lebih mudah dan cepat. Pengetahuan yang didapatkan oleh seorang ahli berdasarkan waktu pengabdian sehingga kemungkinan upah yang diberikan juga tinggi, sementara sistem pakar mampu menghemat biaya.

Sistem pakar selalu saja diunggulkan. Penelitian di Universitas Stanford menemukan sistem pakar tetap akan eksis dengan keunggulannya. Ada enam keunggulan yang dibanggakan yaitu; (1) kesediaan sistem pakar mampu diakses oleh siapa saja melalui perangkat lunak; (2) pembiayaan sistem pakar dapat dikatakan terjangkau; (3) sistem pakar memberikan kecepatan kerja yang maksimal dan mengurangi waktu jam kerja; (4) tingkat error sistem pakar lebih rendah dibandingkan dengan human error; (5) sistem pakar memiliki resiko rendah, sebab mampu bekerja pada lingkungan yang berbahaya bagi manusia; (6) sistem pakar mampu bekerja tanpa emosi, tensi, dan stamina.

Sistem pakar pada akhirnya mampu menggantikan manusia. Ruang kerja manusia telah diambil oleh AI, sehingga bagi pemilik modal tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk memperkerjakan banyak orang dengan upah yang tentu banyak pula. Kontroversi ini terjadi dan menjadi ancaman tersendiri bagi ruang kerja manusia. Dalam skala besar, buruh bisa kehilangan tempat kerja, dan skala kecilnya para konsultan juga bisa kehilangan lapangan pekerjaannya.

Satu hal yang sederhana untuk mengenali sistem pakar ini adalah pada aplikasi akinator yang sempat booming pada tahun 2013. Akinator merupakan bot yang digambarkan menyerupai jin dan mampu menebak pertanyaan terkait karakter di dunia maya. Mulanya Akinator hanya mampu menebak karakter yang terkenal saja. Tetapi, selama berjalannya interaksi antara sistem pakar dengan penggunanya, Akinator terus-terusan mengumpulkan data saat satu-dua pertanyaan tidak mampu dijawab sehingga pada masa-masa yang mendatang Akinator mampu menjawab seluruh pertanyaan setiap user.

*Penulis adalah Mahasiswa Teknik Infromatika Universitas Pamulang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *