Kondisi Indonesia dan Skema Pendidikan Jarak Jauh di Beberapa Wilayah yang Belum Merata

Ditulis oleh : Nur Alamsyah – Satu tahun sudah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Sejak saat pemerintah langsung mengeluarkan kebijakan-kebijakan agar dapat menekan penularan covid-19. Dimulai dari berlakukannya sistem lockdown, sosial distancing, PSBB hingga PPKM.

Selain dalam kehidupan sosial, perhatian pemerintah juga tidak lepas dalam ranah pendidikan. Takut tersebarnya virus dari Wuhan ini menular dilingkungan pengajar dan siswa, mereka terpaksa menutup gerbang sekolah dan menyuruh para siswa untuk belajar di rumah.

Bersamaan dengan itu Menteri pendidikan dan kebudayaan, Nadiem Makarim memberikan solusi pendidikan dengan menjalankan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tujuannya agar peserta didik diseluruh tingkat sekolah tetap melakukan aktivitas belajar walau hanya dirumah.

Walau dinilai sangat solutif, namun kebijakan sekolah jarak jauh berbasis online ternyata memiliki banyak kendala. Para guru dan siswa dituntut harus lebih tanggap dengan perkembangan teknologi.

Sebenarnya hal itu dinilai bagus, terlebih lagi saat ini teknologi mendukung untuk mewujudkan sekolah berbasis online tersebut. Namun sayanganya kebijakan itu tidak terlalu mendukung terutama bagi pelajar dan guru di beberapa wilayah di Indonesia.

Sebagai informasi, negeri ibu pertiwi yang mencangkup dari sabang sampai meroke belum merataan secara ekonomi. Begitu juga fasilitas lainnya termasuk jaringan internet.

Bagi beberapa wilayah perkotaan, memperoleh jaringan 4G bukanlah suatu masalah. Namun hal itu menjadi buah pikiran baik guru dan juga pelajar yang tinggal didaerah-daerah. Mereka rela mencari tempat tertinggi untuk bisa memperoleh akses internet.

Seperti yang dialami oleh sekolah SMPN 4 Kota Kumba. Dimana mereka harus mendaki bukit Wokonggoro demi mendapat akses internet 4G. Kejadian itu terjadi saat peserta didik hendak melakukan ujian try out berbasis komputer.

Minimnya akses internet didearah Nusa Tetanggara Timur tersebut, para guru dan masyarakat mencari solusi dan memilih lokasi ujian dilakukan di luar kelas.

Contoh lainnya, masih diwilayah sama, Sejumlah siswa kelas 6 SD Katolik Lando Nanga, harus berjalan 500 meter menuju gunung yang berada di belakang sekolahnya. Hal itu dilakukan untuk memperoleh signal internet untuk mengikuti simulasi ujian sekolah berstandar digital (USBD).

Selain NTT, Beberapa pelajar di pedalaman Desa Sattoko, Kecamatan Mapili, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat lebih dulu berpetualang mencari lokasi terbaik untuk mencari signal terbaik pada 31 Agustus 2020 silam.

Mereka harus menempuh jarak 1 kilometer dengan cara berjalan kaki. Bukit  yang berada 90 Mdpl itu juga menjadi tempat bagi sejumlah pelajar hingga mahasiswa untuk mengikuti kelas online atau membuat tugas yang diberikan secara online.

Posisi mereka tentu tidak nyaman. Jauh dari rumah, dilakukan dialam terbuka dengan cuaca yang tidak bisa di prediksi entah dalam keadaan panas atau hujan. Selain itu, resiko penularan virus corona juga turut mengancam mereka karena pada akhirnya tetap berkumpul dikeramaian.

Selain berkaitan dengan jaringan internet, sekolah berbasis online ini juga membuat para guru kesulitan menghadapi siswanya.

Seperti kita alami saat masa menjalani kegiatan belajar di kelas, kita dihadapi dengan berbagai macam karakter teman-teman yang ada dikelas. Ada yang terbiasa hidup disiplin dan rajin untuk mengikuti kelas, ada beberapa teman yang membutuhkan perhatian ekstras dari guru karena sulit untuk fokus. Bahkan guru juga harus mengeluarkan energi ekstra untuk menghadapi siswa yang hiperaktif saat dikelas.

Sifat dan karakter siswa yang hampir setiap hari ditemui guru, terkadang membuat mereka kelelahan. Selain itu guru juga harus mengupayakan setiap siswa agar paham dengan materi diberikan  sehingga mereka memiliki hasil yang sesuai standar nilai yang telah ditentukan sekolah. 

Namun saat kelas online dilakukan, tentu permasalahan itu akan sedikit lebih rumit, karena siswa yang mereka hadapi berada jauh dari pengawasan mereka.

Disisi para pelajar juga tidak berbeda jauh. Jika suasana kelas bisa membuat mereka belajar dengan nyaman tanpa gangguan permasalahan keluarga, tentu selama dirumah atau kelas online, banyak dari mereka yang pecah fokus.

CEO Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung menjelaskan, bahwa hasil studi dari “Global Save The Children” untuk periode Juli 2020 di 46 negara, khususnya Indonesia, mengindikasikan terdapat 8 dari 10 anak tidak dapat mengakses bahan pembelajaran yang memadai. Sebanyak 4 dari 10 anak kesulitan memahami pekerjaan rumah, dan fakta bahwa minimal 1% anak tidak belajar apa pun selama pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Survei tersebut membuktikan, anak-anak indonesia belum sepenuhnya siap menghadapi pembelajaran jarak jauh. Belum lagi dengan sifat pengetahuan dari para orang tua.

Lingkungan juga turut mempengaruhi sistem PJJ. Studi tersebut menemukan dua pertiga atau 63 persen anak perempuan lebih banyak dibebani tugas rumah dibandingkan anak laki-laki.

Hal ini juga relevan dengan 23 persen orangtua yang mengasuh dalam kondisi tertekan karena situasi pandemi. 1 dari 8 orang tua menyatakan telah terjadi kekerasan di rumah.

Dengan begitu pembelajaran Jarak Jauh dalam jangka Panjang akan memberikan efek buruk kepada pelajar sebagai asset penerus bangsa. Untuk itu, diperlukan Tindakan tegas dan jitu untuk mengembali sistem pembelajaran yang kembali kondusif.

Ditulis oleh : Nur Alamsyah, MahasiswaProdi Teknik Informatika, Universitas Pamulang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *