Kecerdasan Buatan Pendeteksi Virus Covid-19

Oleh Gangsar Harry Setiawan – Pertama saya ingin menjelaskan tentang tentang system pakar,Sistem Pakar adalah program kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang menggabungkan basis pengetahuan (knowledge base) dengan mesin inferensi. Dalam sistem pakar ini bisa berupa suatu aturan yang diperoleh dari pengalaman atau dari seorang pakar pada bidang keahlian tertentu.

Apakah kamu sudah pernah mendengar AI? AI atau Artificial Intelligence atau bisa disebut juga dengan kecerdasan buatan inimerupakan contoh dari kecerdasan manusia dalam mesin atau alat yang telah diprogram untuk berpikir seperti manusia tetapi terdapat batasan serta meniru tindakan manusia. Karakteristik dari Kecerdasan Buatan bisa dibilang kemampuannya dalam merasionalisasi dan mengambil tindakan atau keputusan yang memiliki peluang terbaik dan pastinya untuk mencapai tujuan tertentu dan keputusan yang baik, dan dimasa ini sejak corana virus atau Covid 19 datang saya ingin membuat artikel tentang “Kecerdasan Buatan Pendeteksi Virus Covid-19”.

Dan yang sudah saya baca peneliti dari mancanegara contohnya dari MIT menemukan atau mendapatkan penelitian bahwa suara batuk manusia dipercaya dapat mendeteksi kemungkinan seseorang terjangkit virus Covid-19. Pada hal ini bisa juga menjadi sistem pemberitahuan  pertama untuk mengetahui persebaran virus. Selama ini juga sejak Corona menyebar, para dokter mencari cara untuk menyembuhkan serta membuat manusia tidak terjakangkit, peneliti juga telah lama mengetahui hasil dari penelitian bahwa suara batuk seseorang bisa menguak penyakit yang diderita. Para Dokter dari MIT, menggunakan permodelan AI atau kecerdasan buatan dalam mendeteksi kondisi seperti penyakit yang diderita seperti pneumonia, asma, bahkan penyakit neuromuskuler dengan menggunakan suara batuk ini. Peneliti berpikir, Kecerdasan Buatan mampu memberikan informasi yang cukup efektif mengenai Covid-19”. Bersama dengan timnya, membuat database berisi ribuan macam sampel suara batuk untuk melatih model Kecerdasan Buatan yang kemudian di dokumentasikan semua penelitiannya pada jurnal terbuka. Model tersebut bekerja dengan mendeteksi pola batuk dalam hal seperti kekuatan suara, sentimen, kinerja paru-paru dan pernapasan bahkan hingga degradasi otot. Hasilnya, model Kecerdasan Buatan tersebut bisa mengidentifikasi sempurna hingga 100 persen batuk oleh penderita Covid-19 tanpa gejala, 98 persen.

Sedangkan, pendeteksian penyakit Covid-19 dari orang tanpa gejala atau OTG, disebutkan memiliki tingkat akurasi 100% hanya dengan suara batuk orang tersebut. Para peneliti atau Dokter ini lanjut mengklaim bahwa batuk orang yang terjangkit Covid-19, baik itu yang memiliki gejala dan orang tanpa gejala, dengan batuk orang biasa memiliki perbedaan dari “suara” yang dikeluarkan.

Pada perbedaan dari suara yang dikeluarkan tersebut tidak dapat didengar langsung oleh telinga manusia, namun bisa ditangkap dengan teknologi Kecerdasan Buatan yang dibuat dan yang telah disempurnakan tadi, dikabarkan aplikasi Kecerdasan Buatan ini akan dibuat menjadi suatu aplikasi yang nantinya akan mudah digunakan secara masal setelah dipublikasikan.

Baca Juga: Download fouad whatsapp terbaru

Baca Juga: Cara Backup dan Restore Chat WhatsApp

Karena tingkat akurasi aplikasi Kecerdasan Buatan yang dibuat memiliki hingga 100%, Peneliti menginginkan teknologi ini ke dalam aplikasi mobile di smartphone yang bisa diunduh secara gratis. Namun, sebelum di publikasikan dan dipakai oleh orang-orang, aplikasi ini harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Badan Pengawas Obat dan juga Makanan (FDA) Amerika Serikat. Jika sudah disetujui dan publikasikan, Masyarakat yang menjadi target aplikasi ini nantinya bisa membuka aplikasi tersebut setiap harinya merekam suara batuk jika mengalami batuk dapat direkam di depan layar ponsel atau dekat dengan speaker pada smartphone bisa juga dengan alat bantu seperti headset dan handsfree mereka masing-masing. Hal ini untuk mengetahui apakah mereka terjangkit Corona atau tidak. Dengan begitu, Masyarakat yang memakai aplikasi nantinya dapat mencegah dan juga mengurangi penyebaran virus sebelum mereka pergi ke tempat-tempat umum bahkan bisa memutus mata rantai Covid 19.

Target utama dari menciptakan aplikasi ini untuk bisa mengurangi penyebaran virus Covid-19 apabila pengguna atau orang-orang dapat digunakan sebelum pergi ke tempat umum seperti sekolah, bekerja, atau aktifitas diluar dan semoga peneltian ini dapat diselesaikan dengan cepat agar hilang Covid-19 ini dibumi. Mereka menyarankan juga, Dalam metodenya ini dapat diterapkan setiap harinya pada mahasiwa, pelajar, pegawai, buruh dan semua orang untuk melacak batuk yang diduga terjangkit Covid-19. Nantinya aplikasi ini memberikan tanda peringatan atau semacam notifikasi di handphone, yang bersangkutan bisa melakukan tes laboratorium untuk membuktikan juga jika aplikasi kecerdasan buatan ini akurat atau tidak.

Para Dokter juga menyimpulkan, teknologi ini nantinya itu di klaim Cuma-Cuma atau gratis, tidak ada biaya sepeserpun untuk aplikasi ini, setiap saat dipergunakan dan  hasil mudah akan menjadi alat bantu yang bisa dipakai secara publik dan masal, untuk melacak kasus menyebarnya kasus Corona ini, dan pasti sekaligus aplikasi kecerdasan buatan ini membantu tambahan dalam tindakan yang ada untuk meminimalisir lonjakan persebaran virus ini dan menghilangkan pandemic ini.

Tetapi yang saya baca juga untuk diagnosa lewat aplikasi ini pembuat mengakui, diagnosa masih harus diperbaiki dan dibenahi, serta melakukan ujicoba yang banyak untuk membuktikan aplikasi ini berguna agar aplikasi semacam itu bisa digunakan dalam metode yang praktis. Karena ,jika aplikasi pada handphone semacam itu dirilis, sangat banyak orang memanfaatkannya sebagai alat tes harian dan Angka kepastian diagnosa kemungkinan bisa terus diperbaiki, jika semakin banyak data dianalisa oleh komputer, dan secara maksimal kecerdasan buatan di aplikasi ini makin akurat untuk mengenali biomarker batuk.”

Ya jika menurut pendapat saya pribadi, untuk mendapatkan hasil maksimal harus memerlukan waktu yang lama pada aplikasi tersebut dan kekurangannya pada aplikasi ini menurut saya juga tidak semua orang menggunakan smartphone hanya dari kalangan menengah sampai kalangan keatas saja yang mempunya karna diberbagai negara terdapat masyarakat mayoritas golongan kebawah. Bagaimana kalau masyarakat kalangan bawah? Ya tentu saja ini jadi pertanyaan kepada peneliti dari MIT, dan semoga saja Indonesia juga mendapatkan ide kreatif untuk menghilangkan pandemi.

Terima kasih kalian yang sudah menyempatkan membaca artikel ini.

Artikel ini Ditulis oleh:  Gangsar Harry Setiawan, Mahasiswa Prodi Teknik Informatika, Universitas Pamulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *