Tim Utusan Pemprov Banten Sudah Berangkat ke Papua

BBSNews, Serang- Tim penjemputan yang diutus Pemprov Banten sudah diberangkatkan ke Papua melalui Bandara Soekarno Hatta, Rabu (2/10/2019) malam. Tim yang terdiri atas 10 orang tersebut, bergerak untuk membawa pulang belasan warga Banten yang terjebak di tengah kerusuhan yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Plt Kepala BPBD Banten E Kusmayadi menuturkan, tim akan langsung menuju Papua dan akan menemui BPBD Papua. Pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan terkait rencana penjemputan dengan BPBD Papua. “(Tim berangkat pukul 22.45 WIB (melalui) Bandara Soetta,” ujarnya.

Informasi yang dihimpunnya, untuk sementara warga Banten yang akan dijemput tersebar di tujuh titik pengungsian. Akan tetapi, ia belum menjabarakan di daerah mana saja warga Banten berada. “Pengungsi ada di tujuh titik,” kata pria yang juga Inspektur Banten tersebut.

Langkah yang dilakukan pemprov merupakan bentuk pertolongan terhadap warga Banten. “Seperti yang dilakukan oleh pihak Sumatera Barat kalau enggak salah. Wakil gubernurnya ke sana (Papua) mengecek. Jadi di sana akan dilakukan koordinasi, kemudian akan dikonsultasikan apakah cukup aman,” ujarnya.

Kepala Kesbangpol Banten Ade Arianto membenarkan, tim pejemputan sudah bergerak menuju Papua. Tim tersebut terdiri atas BPBD, Dinas Sosial (Dinsos), Kesbangpol dan Diskominfo Banten. “Kami sudah dijalan menuju Bandara (Soetta),” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Banten Wahidin Halim menuturkan, tim penjemputan ditugaskan untuk membawa pulang warga Banten di Papua yang sedang tidak kondusif. “Agar mereka untuk sementara bisa bawa pulang dan kembalikan ke sini sambil menunggu situasi kondusif. Tentunya sebagai gubernur saya punya kewajiban untuk membela dan membantu mereka, dan saya prihatin dengan peristiwa yang terjadi di Papua,” ujarnya.

Ia berharap, peristiwa yang terjadi di Papua menjadi catatan sejarah dan tak disikapi warga Banten dengan emosi. “Namun kita sikapi bahwa ini adalah hal yang harus kita lakukan yaitu tindakan mengembalikan mereka, membawa mereka pulang,” ujarnya.

Keluarga khawatir

Sementara itu, Arsih, ibunda dari Nur Hasanuddin yakni seorang warga Kota Serang yang terjebak di Papua, tak kuasa menahan tangis setiap mengingat salah satu anaknya yang berada di Papua.

Dia sendiri pernah tinggal di Papua selama tujuh tahun, bersama suami dan tiga orang anaknya. Tidak hanya itu, ia pun hafal betul dengan kerasnya kehidupan di sana. Arsih merasa khawatir akan keselamatan anak, menantu, dan cucunya yang terjebak dalam konflik rasis.

Arsih menuturkan, saat ini ada sembilan keluarganya yang masih berada di Papua dan ingin segera pulang. Namun karena terbentur biaya, mereka pun tidak bisa pulang ke Kota Serang.

Ia menyebutkan, ada tiga orang anaknya, tiga menantu, dan tiga orang cucu. Cucu Arsih yang paling kecil masih berusia enam bulan.

“Saya setiap hari nangis. Namanya anak kan di sana. Ketakutan aja gitu ngebayangin kalau enggak bakal ngumpul lagi. Cucu saya yang paling kecil baru umur enam bulan,” katanya, saat ditemui dikediamannya, di Lingkungan Secang, Kecamatan Serang, Kota Serang, Rabu (2/10/2019).

Ia merasa khawatir, anak, menantu, dan cucunya di Papua menjadi korban kerusuhan. Sebab, berdasarkan cerita dari salah satu anaknya yang bernama Nur Hasanuddin, situasi di sana sudah tidak aman.

Setiap saat, kerusuhan bisa terjadi dan tidak sedikit nyawa melayang akibat kerusuhan itu. Bahkan daerah yang paling aman pun seperti markas TNI, tidak bisa steril dari kerusuhan. “Kan ngedengernya serem. Kalau ketemu langsung bunuh-bunuh aja,” katanya.

Arsih juga memperkirakan, saat ini ada ratusan warga Banten di Papua. Mereka tidak hanya berasal dari Kota Serang dan Kabupaten Serang saja. Melainkan ada juga yang berasal dari Pandeglang, serta daerah lainnya.

Bahkan ia kenal dengan salah satu keluarga asal Pandeglang yang sudah puluhan tahun tinggal di Papua. Satu keluarga itu pun sangat ingin pulang ke Banten tetapi, lagi-lagi karena terbentur biaya.

Ahmad Nur, suami Arsih pun secara khusus meminta kepada Wali Kota Serang Syafrudin dan Gubernur Banten Wahidin Halim agar memulangkan keluarganya. Dalam situasi yang tidak aman, ia ingin agar keluarganya berkumpul di Serang.”Kalau bisa pak wali kota dan pak gubernur ngasih pekerjaan atau modal supaya di Serang bisa usaha,” katanya.

Ia mengatakan, sempat menyaksikan di televisi warga dari provinsi lain yang ada di Papua dijemput untuk dipulangkan ke daerah asal mereka. Pemerintah provinsi bekerja menyelamatkan warga mereka dari bahaya. “Yang saya tau itu Jawa Timur, Jawa Barat, Makassar, dan Maluku. Mudah-mudahan yang Banten segera dijemput,” tuturnya.

Ahmad Nur mengatakan, harga tiket pesawat dari Papua ke Jakarta biasanya lebih mahal dibandingkan sebaliknya. Tiket pesawat yang terakhir kali ia beli sekitar enam bulan lalu mencapai Rp 4,2 juta sekali jalan.

“Nur Hasanudin sama istrinya, Pindi dan anaknya Adam (2,5 tahun), Suebudin sama istrinya Resi dan anaknya Hani (4 tahunan), serta Aminudin sama istrinya Nesa dan anaknya Arfan (6 bulan). Mereka tinggal di daerah Santani, Jayapura, Papua,” ucapnya. (RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *